You are currently viewing Bosch Angkat Robert Hesse sebagai Presiden Asia Tenggara dan Oceania

Bosch Angkat Robert Hesse sebagai Presiden Asia Tenggara dan Oceania

Perusahaan teknologi global Bosch resmi menunjuk Robert Hesse sebagai Presiden Wilayah Asia Tenggara dan Oceania. Dalam jabatan barunya ini, Hesse akan bertanggung jawab atas arah strategis, operasional, serta pengelolaan seluruh lini bisnis Bosch di kawasan tersebut.

Hesse menggantikan Vijay Ratnaparkhe, yang telah mengakhiri masa tugasnya bersama Bosch. Penunjukan ini sekaligus menandai langkah lanjutan Bosch dalam memperkuat kepemimpinannya di pasar Asia Tenggara dan Oceania yang terus berkembang.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Robert Hesse telah meniti karier di berbagai sektor, mulai dari peralatan rumah tangga, sistem keamanan, hingga perkakas listrik. Selama berkiprah di Bosch, ia menduduki beragam posisi eksekutif di kawasan Asia Pasifik, EMEA, serta Amerika Utara.

Pengalaman lintas wilayah dan pemahamannya yang mendalam terhadap model bisnis Bosch dinilai menjadi bekal penting untuk memimpin portofolio perusahaan yang kian beragam, sekaligus menjawab tantangan dan peluang pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara dan Oceania.

“Saya merasa terhormat dan antusias untuk memimpin bisnis Bosch di Asia Tenggara dan Oceania,” ujar Robert Hesse. Ia menegaskan bahwa kawasan ini memiliki peran strategis dalam rencana pertumbuhan global Bosch, mengingat kehadiran perusahaan di wilayah tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad.

Menurut Hesse, mulai 2026 dan seterusnya, Bosch berkomitmen menghadirkan lebih banyak teknologi mutakhir serta memperluas layanan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan lokal, sejalan dengan strategi penyeimbangan portofolio regional perusahaan.

Kinerja Positif Bosch di Asia Tenggara dan Oceania

Bosch mencatatkan pertumbuhan yang solid di Asia Tenggara sepanjang 2024. Total penjualan bersih di kawasan ini mencapai 2,35 miliar euro, termasuk penjualan dari perusahaan non-konsolidasi serta pengiriman internal ke afiliasi, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 17,8 persen.

Sementara itu, penjualan terkonsolidasi kepada pihak ketiga tercatat sebesar 1,15 miliar euro. Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh bisnis mobilitas dan purnajual otomotif di Indonesia dan Malaysia, serta tingginya permintaan peralatan rumah tangga di Vietnam.

Di kawasan Oceania, Bosch juga mencatatkan hasil menggembirakan. Total penjualan bersih mencapai 803 juta euro pada 2024, tumbuh 9,4 persen secara tahunan. Adapun penjualan terkonsolidasi kepada pihak ketiga di wilayah ini berada di kisaran 690 juta euro.

Pabrik Modular Pertama Bosch di Dunia Dibangun di Indonesia

Sebelumnya, Bosch juga menorehkan tonggak penting dengan memulai pembangunan fasilitas manufaktur terbarunya di kawasan industri Deltamas, Cikarang. Proyek ini menjadi bersejarah karena Indonesia dipilih sebagai lokasi pabrik modular pertama Bosch di dunia.

Langkah tersebut mencerminkan keyakinan Bosch terhadap potensi Indonesia, tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat produksi strategis dan mitra jangka panjang dalam transformasi industri global.

Bosch telah hadir di Indonesia sejak lama melalui jaringan mitra dan distributor, kemudian memperkuat eksistensinya dengan membuka kantor perwakilan di Jakarta pada 2008. Investasi fasilitas modular ini menjadi kelanjutan dari komitmen jangka panjang perusahaan di Tanah Air.

Vijay Ratnaparkhe sebelumnya menyebut pembangunan pabrik ini sebagai penegasan kepercayaan Bosch terhadap masa depan industri Indonesia. Menurutnya, Indonesia berada pada momentum penting transformasi manufaktur, didukung pertumbuhan ekonomi yang stabil, tenaga kerja muda yang kompetitif, serta iklim investasi yang semakin terbuka terhadap teknologi canggih.

Konsep Modular dan Industri 4.0

Fasilitas manufaktur terbaru Bosch mengusung konsep modular manufacturing, di mana berbagai unit bisnis dapat beroperasi dalam satu lokasi dengan fleksibilitas tinggi. Konsep ini dirancang oleh tim real estate global Bosch dan pertama kali diterapkan di Indonesia.

Melalui pendekatan modular, setiap lini bisnis dapat berbagi infrastruktur utama, utilitas, dan teknologi Industri 4.0, namun tetap menyesuaikan kebutuhan produksinya masing-masing. Model ini memungkinkan peningkatan kapasitas yang cepat, percepatan waktu produksi, serta respons pasar yang lebih adaptif.

Selain itu, fasilitas tersebut terhubung dengan sistem cloud global Bosch, sehingga seluruh mesin, data, dan proses produksi dapat dipantau serta dioptimalkan secara terintegrasi. Teknologi ini membuka peluang terciptanya ekosistem manufaktur yang lebih efisien, berkelanjutan, dan siap menghadapi dinamika industri masa depan. Tuna55

Leave a Reply