Keputusan mengejutkan datang dari Washington pada Jumat, 7 Februari 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mencabut tarif tambahan sebesar 25% terhadap sejumlah produk asal India. Kebijakan ini langsung berlaku hari ini dan menandai perubahan signifikan dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan India.
Langkah ini disambut beragam reaksi oleh pelaku pasar global, pemerintah India, serta kalangan industri di kedua negara. Banyak pihak menilai keputusan tersebut sebagai sinyal meredanya ketegangan dagang yang sempat memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Latar Belakang Penerapan Tarif Tambahan Donald Trump
Tarif tambahan 25% sebelumnya diberlakukan sebagai bagian dari kebijakan proteksionis Trump yang bertujuan melindungi industri domestik Amerika. Pemerintah AS menilai adanya ketidakseimbangan perdagangan, terutama pada sektor baja, aluminium, produk farmasi, dan komponen teknologi.
Kebijakan tersebut sempat memicu protes dari New Delhi. Pemerintah India menilai tarif itu merugikan eksportir nasional dan berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan regional. Sejumlah perusahaan India bahkan melaporkan penurunan pesanan dan peningkatan biaya logistik akibat beban tarif yang tinggi.
Alasan Pencabutan Tarif oleh Trump
Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut pencabutan tarif dilakukan setelah “kemajuan substansial” dalam negosiasi bilateral. Ia menekankan bahwa India telah menunjukkan komitmen untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Amerika serta meninjau ulang beberapa kebijakan impor yang dianggap diskriminatif.
Trump juga menegaskan bahwa keputusan ini dibuat demi kepentingan ekonomi Amerika Serikat. Menurutnya, hubungan dagang yang lebih seimbang dengan India justru akan menciptakan lapangan kerja baru, menurunkan harga bahan baku, dan meningkatkan daya saing industri AS di pasar global.
Dampak bagi India dan Amerika Serikat
Bagi India, pencabutan tarif ini menjadi angin segar bagi sektor ekspor. Produk-produk unggulan seperti baja olahan, tekstil, farmasi, dan komponen teknologi diperkirakan akan kembali kompetitif di pasar Amerika. Para pelaku usaha berharap volume ekspor ke AS dapat pulih dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, industri Amerika juga diuntungkan dengan kembalinya pasokan bahan baku dan komponen dari India dengan harga yang lebih stabil. Analis ekonomi menilai langkah ini berpotensi menekan inflasi dan memperlancar rantai pasok yang sebelumnya terganggu.
Respons Pasar dan Prospek ke Depan
Pasar keuangan global merespons positif kebijakan ini. Indeks saham di Asia dan Amerika mencatat penguatan tipis, sementara nilai tukar rupee India menunjukkan tren menguat terhadap dolar AS.
Ke depan, banyak pihak berharap pencabutan tarif ini menjadi awal dari hubungan dagang yang lebih konstruktif. Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa kebijakan perdagangan era Trump kerap bersifat dinamis. Stabilitas jangka panjang masih sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan hasil perundingan lanjutan antara kedua negara Tuna55.