You are currently viewing Meski Tumbang dari MU, Dua Faktor Ini Membuat Arsenal Tetap Difavoritkan Juara Liga Inggris

Meski Tumbang dari MU, Dua Faktor Ini Membuat Arsenal Tetap Difavoritkan Juara Liga Inggris

Arsenal masih memimpin klasemen Premier League, tetapi posisi yang sebelumnya terasa aman kini mulai diiringi rasa waswas. Selisih empat poin di puncak tak lagi memberikan kenyamanan seperti beberapa pekan lalu.

Dalam rentang waktu yang sangat singkat, hanya delapan hari, The Gunners gagal memanfaatkan peluang besar untuk memperlebar jarak hingga sembilan poin dari Manchester City. Hasil imbang tanpa gol saat bertandang ke markas Nottingham Forest, disusul kekalahan dramatis 2-3 dari Manchester United, membuat persaingan di papan atas kembali memanas.

Kekalahan dari MU pun membawa catatan kurang menyenangkan. Itu menjadi kekalahan kandang pertama Arsenal di Premier League musim ini, sekaligus memperpanjang tren tanpa kemenangan mereka menjadi tiga pertandingan beruntun di liga.

Kondisi tersebut langsung memunculkan keraguan. Banyak pihak mulai bertanya-tanya apakah The Gunners kembali menghadapi skenario lama: goyah di momen krusial dan kehilangan momentum dalam perburuan gelar, seperti yang kerap terjadi pada musim-musim sebelumnya.

Mantan kapten Manchester United, Roy Keane, menilai tekanan kini benar-benar menghampiri Arsenal. Menurutnya, cara tim London Utara itu menyikapi tekanan akan sangat menentukan perjalanan mereka dalam satu hingga dua bulan ke depan.

“Ini soal tekanan. Arsenal berada di posisi yang sangat bagus, semua ada di tangan mereka, tetapi justru di situlah tekanannya muncul,” ujar Keane.

“Mereka mulai merasakannya sekarang. Bagaimana mereka bereaksi dalam satu atau dua bulan ke depan akan sangat menentukan, karena hal inilah yang sering membuat mereka terpeleset di tahun-tahun sebelumnya,” lanjutnya.

Keane juga menyoroti bahasa tubuh Arsenal yang dinilainya kurang mencerminkan kepercayaan diri tim pemuncak klasemen. Ia menegaskan bahwa Arsenal perlu kembali ke prinsip dasar permainan dan menghadapi tantangan, bukan menghindarinya.

Statistik Masih Mendukung, Arsenal Tetap Unggul

Meski sedang berada dalam fase kurang stabil, performa Arsenal sepanjang musim tetap tergolong impresif. Mereka masih memimpin Premier League, tampil sempurna di fase grup Liga Champions, unggul atas Chelsea di semifinal Carabao Cup, serta telah memastikan langkah ke putaran keempat Piala FA. Artinya, peluang meraih empat gelar masih terbuka lebar.

Di kompetisi liga, The Gunners bahkan masih menjadi kandidat terkuat juara berdasarkan analisis statistik Opta. Peluang mereka mempertahankan posisi teratas mencapai 84,44 persen.

Manchester City menyusul di posisi kedua dengan probabilitas 8,38 persen, sementara Aston Villa berada di angka 7,09 persen. Tim-tim lain praktis hanya memiliki peluang sangat kecil, bahkan di bawah satu persen.

Besarnya peluang Arsenal tidak semata karena dominasi mereka sendiri, melainkan juga inkonsistensi para rival. Walau hanya meraih satu poin dari tiga laga terakhir, Arsenal tetap mencatat rasio poin per pertandingan terbaik kedua di antara enam tim teratas dalam enam pekan terakhir.

Jadwal Lebih Bersahabat

Faktor lain yang menguntungkan The Gunners adalah sisa jadwal yang relatif lebih ringan. Mereka hanya akan menghadapi dua laga melawan sesama tim enam besar, jumlah paling sedikit dibandingkan para pesaing langsung.

Sejarah pun memberi gambaran menarik. Sejak terakhir kali Arsenal menjuarai liga 22 tahun silam, hanya Leicester City pada musim 2015/2016 yang memiliki perolehan poin lebih rendah setelah 23 pertandingan dibandingkan Arsenal musim ini.

Dengan koleksi 50 poin, The Gunners memang berada di bawah rata-rata poin juara Premier League pada fase yang sama. Namun, musim ini diprediksi akan ditentukan dengan total poin yang lebih rendah dibandingkan beberapa musim sebelumnya.

Jika pada tahun-tahun lalu periode goyah seperti ini kerap menjadi awal kejatuhan, musim ini situasinya terlihat berbeda. Arsenal masih memegang kendali penuh. Kini, tantangan sesungguhnya adalah apakah mereka mampu belajar dari pengalaman, menjawab tekanan, dan menulis akhir cerita yang berbeda—atau justru kembali mengulang kisah lama. Tuna55

Leave a Reply