Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Ia menegaskan Teheran akan dihapus dari muka bumi apabila terjadi upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan retorika antara Amerika Serikat dan Iran, di mana kedua negara sama-sama memberi sinyal ancaman balasan besar jika pemimpin mereka menjadi sasaran serangan.
Ancaman Donald Trump Kepada Iran
Trump menyampaikan ancaman itu dalam wawancara dengan News Nation yang ditayangkan Selasa waktu setempat. Ia menjawab pertanyaan terkait potensi ancaman terhadap keselamatan pribadinya.
Saya sudah memberikan instruksi yang sangat jelas. Jika sesuatu terjadi pada saya, mereka akan dilenyapkan, kata Trump, seperti dikutip Channel News Asia, Rabu, 21 Januari 2026.
Di hari yang sama, militer Iran juga melontarkan pernyataan bernada serupa. Menanggapi kemungkinan ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Jenderal Abolfazl Shekarchi menyatakan Teheran tidak akan menahan diri jika pemimpinnya diserang.
Shekarchi mengatakan Trump telah memahami bahwa Iran akan memberikan respons keras jika terjadi agresi terhadap kepemimpinan negara tersebut. Ia menegaskan balasan Iran tidak akan bersifat simbolis dan akan dilakukan secara menyeluruh.
Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak akan menyisakan wilayah aman bagi pihak mana pun yang terlibat dalam serangan terhadap negaranya.
Ancaman Terbaru dari Donald Trump
Ancaman terbaru ini bukan yang pertama disampaikan Trump. Sekitar setahun lalu, tak lama setelah kembali menempati Gedung Putih, ia juga memperingatkan Iran akan konsekuensi fatal jika terbukti merencanakan serangan terhadap dirinya.
Ketegangan geopolitik ini muncul bersamaan dengan situasi dalam negeri Iran yang masih bergejolak. Sejak Desember lalu, negara tersebut dilanda gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam puluhan tahun, dipicu krisis ekonomi dan melemahnya nilai mata uang nasional.
Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan jatuhnya korban dalam jumlah besar akibat tindakan aparat keamanan. Human Rights Activists News Agency mencatat lebih dari 4.000 kematian yang telah diverifikasi. Sementara itu, organisasi Iran Human Rights menyebut jumlah korban kemungkinan jauh lebih tinggi, meski sulit dipastikan karena pembatasan akses komunikasi Tuna55.
Di luar negeri, sejumlah tokoh diaspora Iran menyerukan tekanan internasional yang lebih kuat terhadap pemerintahan Teheran. Salah satunya adalah peraih Nobel Perdamaian Shirin Ebadi, yang mendorong komunitas internasional mengambil langkah tegas terhadap pemimpin tertinggi Iran dan jajaran komandan Garda Revolusi.